Friday, September 21, 2012

Monster (1994-2001) Review.


Akhirnya,setelah perjuangan maraton ngebaca Monster yang dimulai dari tanggal 15 agustus sampai 20 agustus 2012,Monster pun berakhir,pengalaman 5 hari yang bisa dibilang benar2 suram,dan hari ini,gw berkesempatan untuk mereview manga setan ini,karena blog kritikus film gadungan itu blog film,mana bisa mereview manga disitu,dan disinlah,gw akan ngucapin kalimat makian sekaligus pujian ke sang pembuat manga iblis ini....Urasawa Naoki.


Selamat datang di Düsseldorf Jerman,bila kamu berkunjung kesana,maka kamu (mungkin) akan menemukan sebuah Rumah Sakit di sana,ya,Rumah Sakit bernama Eisler Memorial Hospital,rumah sakit?,kenapa ke rumah sakit,karena mungkin,kamu  akan bertemu dengan dokter spesialis bedah otak bernama Kenzo Tenma,seorang dokter muda jenius berkebangsaan jepang yang memiliki reputasi kelewat tinggi ,sehingga,tak jarang,banyak dokter lain di Eisler Memorial yang iri padanya,Kenzo Tenma,seorang dokter berbakat yang memiliki masa depan cerah,memiliki tunangan putri direktur rumah sakit,memiliki banyak pasien yang sangat mengaguminya,dan tentu saja,karirnya yang akan segera naik,tapi semuanya sirna,ketika pada suatu malam,ia lebih memilih melakukan operasi kepada bocah korban luka tembak dikepala daripada mengoperasi walikota,karirnya hancur berantakan begitu ia tahu bahwa walikota yang di tangani dokter lain meninggal,di saat lain,ia tidak tahu,bahwa ternyata,anak kecil yang ia hidupkan kembali,adalah seorang...Monster.

Bersetting di Jerman pada Tahun 1986,Monster merupakan manga karya Urasawa Naoki yang pertama dalam mengedepankan unsur psycho dan Thrillernya,sehingga tak jarang,banyak penggemar manga di Indonesia termasuk gw,mencap Urasawa Naoki sebagai seorang mangaka yang sangat lihai dalam mengatur plot,karakter,pengembangan cerita,dan yang paling penting,aroma Thriller dan Suspensenya yang selalu membuat para pembaca dilanda jaw dropping dan sedikit Goosebumps akan kengerian ceritanya,kengerian?,kita disini gak akan ngebahas mangaka macam Takehiko Inoue dengan Sakuragi Hanamichi yang berusaha mencapai Interhigh,kita gak ngebahas Tite Kubo dengan manusia setengah dewa kematian,kita ga ngebahas Masashi Kishimoto dengan petualangan seseorang yang ingin menjadi Ninja terhebat di dunia,yang kita bahas disini adalah seorang mangaka bernama Urasawa Naoki,seorang mangaka yang sering membuat cerita menakutkan.


Dimulai daripada hari sabtu,gw mulai membaca Monster,sebelumnya gw udah nonton animenya,cuman,itu hanya sampai Episode 50,lantaran Animenya sendiri terlalu sering melintir kemana2,sehingga tak heran,gw ngedrop animenya dan berenti nonton,pas liburan  dijakarta 9 bulan yang lalu,gw sempet kepikiran mau beli set Monster vol.1-18,tapi sayangnya,harganya kelewat mahal,500.000 untuk buku berjumlah 18 jilid itu,mau gak mau,gw mengurungkan niat gw untuk ngebeli Monster,set lengkap di kaskus pun harganya paling murah 300.000,itupun belum termasuk ongkir yang makan 3 kilogram,komik yang harga aslinya seharga 12.000 per jilid itu harganya di blow-up besar-besaran mengingat kelangkaannya yang sudah sangat langka,pemburu manga di indonesia pun sering memburu Monster,sehingga harga yang awalnya 150.000 mulai menaik menjadi 250.000,300.000.350.000,500.00,dan yang paling gila,ada yang sampai jual 750.000,suram,namun seperti Kenzo Tenma yang hidupnya berubah semenjak mengoperasi anak itu,hidup gw sendiri berubah saat teman gw,si Roy,ngejual set Monster 1-18,dengan harga 90.000,bedanya,kalau Kenzo Tenma dari seorang dokter berubah jadi seorang pelarian,maka hidup gw berubah dari seorang pelajar,menjadi seorang pelajar bolos sekolah.

PS:gw paling ogah baca manga di laptop,entah kenapa leher gw jadi pegel,paling enak baca manga ya lewat buku.

Urasawa Naoki memang terkenal lewat Yawara Fashionable Judo Girl yang mengisahkan seorang perempuan coming of age yang mengalami dilema antara menjadi seorang remaja perempuan seutuh dan seusianya dan disaat yang sama,harus menuruti sang kakek yang ingin menjadikan yawara seorang juara bela diri Judo,oh dan tidak lupa,Urasawa Naoki juga terkenal lewat Master Keaton,seorang arkeolog penyelidik asuransi serba bisa yang terkenal dengan kemampuan-kemampuan macgyver-nya,sukses dengan karya-karya panjangnya itu,Naoki mulai menggambar Monster di tahun 1994,yang mengisahkan kisah paling menjijikan dan tersuram yang pernah ada di tahun itu,dan berhasil direalisasikan kedalam sebuah manga,ya,Urasawa Naoki adalah reinkarnasi Alferd Hithcock,namun dalam bentuk seorang mangaka,bukan sutradara film,sejak volume 1 Monster dimulai,pembaca diperlihatkan oleh naoki betapa tenangnya Dusseldorf itu,sebuah kota yang tenang dan damai,hidup Tenma itu bagus2 aja,namun setelah Tenma mengoperasi bocah itu,semuanya berubah,anak itu seakan-akan menjadi kunci kehancuran dunia,gara-gara tenma mengoperasi anak itu,gerbang neraka pun terbuka,tenma baru saja membangunkan seorang monster,itulah premis yang diberikan oleh Monster,dan entah kenapa,berhasil membuat gw ga bisa tidur malam2 dan ga bisa ngedengerin guru disekolah karena kepikiran manga sakit ini.


Pengembangan ceritanya sendiri sangatlah non-linear,memang,tidak sampai segila 20th Century Boys non-linearnya,namun,kesuraman yang ada di Monster seakan-akan masuk kedalam relung hati para pembaca,para pembaca-pun acapkali sering di cekoki oleh beberapa gambar di Monster yang terlalu,apa itu namanya..disturbing ya,ah,kalimat disturbing itu terlalu mainstream,mari kita ganti kata2 disturbing itu dengan kata....MENJIJIKAN,gambar-gambarnya-nya yang jijik itu seakan2 digambar oleh Naoki dengan satu tujuan,"gambar itu akan terekam dan tersimpan di otak pembaca selamanya",ceritanya sendiri menggambarkan seorang pelarian bernama Kenzo Tenma,seorang man-on-the-run dengan gaya penceritaan terbatas,Monster tak hanya menampilkan perspektif dari sudut pandang Tenma saja,Monster memiliki sesuatu,karakter memorable yang terlalu banyak,sehingga sulit sekali untuk mengingat karakter mana yang paling berkesan dan memorable.


Monster ngambil tema yang lagi panas-panasnya waktu itu,ngangkat tema pencucian otak anak-anak di jerman,bicara masalah pencucian otak,kita ngomongin isu yang sangat klise,pencucian otak itu isunya biasa banget,orang,otaknya dicuci,diisi ideologi-ideologi dan mindset baru,ya udah,kelar,tapi dalam manga ini,jangan berpikir sesederhana itu,karena di Monster,pencucian otak tidaklah senyeleneh itu,kamu akan dibawa ke suatu kota Jerman,jangan harap kamu akan melihat Jerman di siang hari,Jerman di malam hari lebih mencekam,kamu dibawa ke sudut2 kota itu,melihat para pemabuk,pelacur,penjahat bersatu padu dan bersandiwara di kegelapan kota kejahatan itu,dan pada akhirnya,bersiaplah menghadapi klimaks Monster di volume terakhir yang sangat menggila itu,bersiaplah untuk menemui kebenaran,kenyataan yang mengerikan sekaligus membuat kamu tercengan sampai menteskan peluh air keringat selama 18 volume yang kamu baca,karena sejatinya,kebenaran nan menyakitkan itulah yang akan memerdekakan kamu.

Selesai membaca Monster,gw termenung sebentar,sambil berpikir,barusan gw diperlihatkan dengan open-ending termindfuck sepanjang masa,endingnya datar,namun gila,endingnya terang,namun seakan-akan gelap,ambigu,tapi memuaskan nafsu gw terhadap manga yang membutuhkan intelektualitas setengah matang,Monster membuat para pembacanya sadar,bahwa setiap manusia memiliki sisi Monster dalam dirinya,sisi Monster yang kelam,jahat,suram,dan lain2,sebuah keburukan karakter personal,bagi kamu yang membaca Monster,mungkin kamu akan menghujat dan mencaci maki Johan Liebert karena tindak perbuatannya yang sulit dipikirkan oleh akal sehat manusia itu,mungkin kamu ingin Johan Liebert,sang anak psikopat gila pembantai berdarah dingin itu mati tertembak di kepala,tapi sayangnya,kamu tidak sadar,pada saat kamu menyelasikan manga ini,kamu telah menjadi Johan Liebert yang baru,bagi kamu yang selesai membaca Monster dan baru saja membaca review ini,atau kamu membaca review ini dan kemudian ingin membaca Monster,pada saat kamu menyelesaikan Monster,gw cuman bisa ke kamu....


Selamat,kamu telah menjadi Monster,jadi,berapa orang yang sudah kamu bunuh?

No comments:

Post a Comment