Monday, June 23, 2014

Anak Ajaib (Short story)


DIA terlihat seperti anak sang pekerja yang dilanda nestapa dalam film The Bicycle Thieves. Namanya Guntur, usianya baru 5 tahun, namun raut wajahnya sudah seperti orang yang sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ajalnya. Aku tahu kenapa ia berwajah murung seperti itu, orang tuanya sedang bertengkar karena Ayahnya punya simpanan lain. Mulut-mulut bangsat para guru wanita itulah yang membuatku tahu masalah Guntur. Di saat di mana ruang guru seharusnya menjadi tempat untuk berdiskusi tentang pelajaran atau rencana pendidikan para murid kedepan,  para guru malah membicarakan keburukan para orang tua murid, telingaku pun mau tak mau terpaksa mendengar mulut mereka membicarakan hal-hal yang tidak mengenakan. Suatu ketika aku pernah mendengar seorang guru membicarakan tentang Ayah salah satu murid yang selingkuh dengan pasangan gay-nya, atau Ibu salah satu murid yang hamil di luar nikah dan mesti membesarkan anaknya yang tertular HIV AIDS. Jujur saja, aku bukanlah penikmat diskusi nista seperti itu, kalimat penghakiman yang mereka lontarkan selalu membuatku gusar dan muak. Kenapa orang selalu lebih suka menceritakan keburukan orang lain ketimbang menceritakan kebaikan orang lain?

“Kamu belum dijemput oleh Ibumu, Tur?” tanyaku saat menghampirinya yang duduk di depan gerbang sekolah, mencoba membuka percakapan.

“Belum Pak, Ibu selalu terlambat 45 menit menjemput saya.”

Guntur selalu dijemput paling akhir. Saat teman-temannya sudah sampai di rumah, mengganti seragam yang dipenuhi bekas air keringat dengan pakaian kebebasan, Guntur masih tetap menunggu Ibunya datang menjemputnya. Jam menunjukan pukul 10:30, masih ada waktu sekitar 15-20 menit untuk menemani Guntur.

“Mumpung Ibumu mungkin masih lama menjemputmu, ayo, Bapak temani kamu ngomong.”
Guntur masih terdiam membisu.

“Guntur, kenapa wajah kamu murung begitu, kamu ada masalah di sekolah?”

“Tidak Pak.”

“Lalu?”

“Kemarin Ibu menyirami rumah dengan bensin sambil menangis, katanya ibu mau bakar rumah karena Ayah masih terus berhubungan dengan pacar Ayah.”

Dia tidak menangis saat mengatakan kalimat barusan, hanya saja, wajahnya menjadi hampa, seakan-akan tak terlihat tanda-tanda  kehidupan seorang anak TK nol besar di wajah kecilnya itu. Sama sekali tidak terlihat.

“Saya takut Pak.” ucapnya.

“Takut apa?”

“Saya takut saya akan berubah menjadi seperti Ayah. Saya takut akan masa depan.”

“Guntur, Bapak yakin, di saat kamu dewasa nanti, kamu akan menjadi orang yang baik.” ucapku berusaha menghibur.

“Apa Bapak bisa menjaminnya?” tanyanya yakin.

“Maksudmu?”

“Apa Bapak bisa menjamin saya bisa menjadi orang yang benar-benar baik? Maksud saya, banyak dari penghuni penjara yang juga mempelajari mana baik mana jahat saat TK seperti saya. Banyak juga koruptor yang saat masih kecil ingin menjadi orang baik dan jujur. Dan banyak orang-orang yang pada awalnya ingin setia dengan pasangannya dan berjanji untuk tidak akan pernah mendua. Namun kenapa pada akhirnya mereka melanggar janji dan mengkhianati hati nurani mereka pak?”

Aku tidak percaya kalau pertanyaan seperti itu keluar dari mulut bocah berumur 5 tahun. Aku hanya bisa melemparkan pandangan ke jalanan, berusaha untuk tidak menatap nanar matanya yang tajam.

“Masa depan membunuh mereka. Waktu bisa merubah sesuatu yang benar-benar baik menjadi sesuatu yang dipenuhi kejahatan. Semakin lama seseorang hidup di dunia, semakin besar pula kemungkinan ia menjadi seseorang yang sepenuhnya hitam. Saya takut saya akan berubah menjadi seperti itu, Pak.”

“Tapi Guntur, kamu sendirilah yang akan menentukan kamu akan menjadi seperti apa. Apakah kamu akan menjadi orang baik, atau orang jahat, itu semua tergantung pilihanmu. Karena kamu sendirilah yang menentukan masa depanmu, bukan siapapun.” timpalku berusaha mengimbangi perkataannya.

“Bapak percaya Tuhan?” balasnya.

Jika ada orang yang bertanya aku mendalami agama apa, mungkin pertanyaan itu masih wajar walaupun agak tidak etis. Tapi hari ini,  ada anak TK yang bertanya apakah aku percaya Tuhan atau tidak. Hari ini memang hari teraneh yang pernah kualami selama tahun ini.

“Ya, bapak percaya.”

“Kalau begitu bapak percaya takdir?” Tanyanya lagi, sambil menggerak-gerakan botol minum bergambar beruang dengan pakaian jeans biru yang menggantung di lehernya.

“Tidak, bapak tidak percaya takdir. Buat bapak, bapak sendirilah yang memilih jalan hidup bapak.”

“Maaf kalau saya lancang pak, tapi menurut saya, sangat tidak masuk akal kalau ada orang yang percaya Tuhan, tapi tidak percaya dengan yang namanya takdir.” Jawabnya secara lantang.

Aku melongo keheranan mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut Guntur.

“Masih banyak orang yang merasa kalau hidup ini terlihat seperti mobil yang berada di persimpangan jalan, para pengemudinya berusaha untuk mencari jalan terbaik tanpa tahu apa yang akan menanti mereka di ujung jalan. Itu sebenarnya hanya ilusi semata. Padahal, hidup ini seperti rel kereta api, tiap manusia memiliki kereta dan relnya masing-masing, mereka hanya tidak menyadarinya saja. Bapak mengerti maksud saya kan?”

Perkataannya barusan benar-benar menamparku dengan telak. Seharusnya anak seusianya membicarakan tentang kartun yang ditayangkan pada hari minggu, atau membicarakan warna mana yang cocok untuk warna baju Budi dalam buku gambar, tetapi anak ini malah membahas konsep predestinasi.

“Jadi maksudmu, kamu takut kalau kamu diciptakan untuk menjadi sesuatu yang buruk?”

“Iya, saya khawatir kalau saya pada akhirnya akan menjadi sama dengan orang-orang itu. Orang-orang yang diciptakan untuk menjadi titik-titik hitam yang mengotori dunia yang putih ini. Darah Ayah saya mengalir dalam diri saya. Mau bagaimanapun juga, sifatnya akan menurun ke saya.”

“Jadi menurutmu  Tuhan menciptakan mereka dengan sengaja untuk menjadi sesuatu yang jahat?”

Ia pun mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

“Kalau begitu, kamu beranggapan kalau Tuhan itu mempermainkan umat manusia.” balasku.

“Tapi, kalau saya tidak menganggapnya demikian, berarti itu sama saja dengan saya sudah membunuh Tuhan. Kalau saya tidak menganggap Tuhan memang mempermainkan manusia, dan menganggap kalau kehendak bebas itu ada, berarti secara tidak langsung, saya menghilangkan unsur kemahatahuan Tuhan. Jika Tuhan tidak lagi maha tahu, maka Dia bukanlah lagi.... “ Guntur menghentikan perkataannya, berusaha untuk tidak melanggar garis batas kalimat yang pantas untuk diucapkan oleh anak TK.

Aku merasa wajar jika aku kalah berdialog dengan teman-teman sebaya atau seniorku, tapi perkataannya barusan benar-benar membuatku bergidik ngeri.

“Kalaupun pada akhirnya Tuhan memang menciptakanmu untuk menjadi kumpulan dari titik-titik hitam itu, kamu tahu darimana Guntur? Kamu masih berumur 5 tahun, kamu tidak akan tahu waktu akan membawamu ke mana. Tidak ada yang bisa menjamin kamu pada akhirnya akan menjadi seperti apa.”

“Tapi sayangnya, entah ini kutukan atau bukan, saya bisa melihat masa depan saya sendiri, Pak. Saya bisa melihat pada akhirnya saya akan menjadi seperti apa.” jawabnya dengan raut muka yang agak sedih, namun terlihat tegas.

Tiba-tiba saja, Honda Civic milik Ibu Guntur kini sudah berada di depan kami. Tanpa disadari, 10 menit sudah berlalu. Hari ini Ibu Guntur menjemput Guntur 5 menit lebih cepat dari biasanya.

“Guntur!” teriak Ibunya.                               

Guntur pun berjalan ke arah mobil, dan sebelum ia membuka pintu mobil, ia menoleh ke arahku dan berkata:

“Saya pulang dulu pak. Sampai jumpa lagi, entah di mana.” Ucapnya dengan nada yang kering, seolah-olah ini pertemuan kami yang terakhir.

“Ya, sampai berjumpa lagi, Guntur.”

Honda Civic Ibu Guntur pun melesat meninggalkan gerbang sekolah TK Maksud Bersama. Meninggalkanku yang masih  terbujur kaku setelah mendengarkan ucapannya barusan.

“Saya bisa melihat masa depan saya sendiri, Pak.”

Anak-anak jaman sekarang memang menyeramkan.

***

Ternyata Guntur salah, ia tidak akan pernah menjadi bagian dari titik-titik hitam itu. Keesokan harinya, ada sebuah berita buruk yang menghebohkan sekolah, Honda Civic milik Ibu Guntur mengalami kecelakaan fatal. Guntur dan Ibunya tewas seketika karena amukan api yang menghanguskan mobil mereka. Belakangan para penyelidik dari kepolisian menyimpulkan kalau Ibu Guntur memang merencanakan bunuh diri dengan menabrakan mobilnya ke pembatas flyover. Padahal ada cara bunuh diri yang lebih pantas dan nyaman, tapi kenapa masih ada saja orang yang lebih memilih mati dengan cara menyakitkan seperti itu?

Teman-teman Guntur menangis karena kehilangan Guntur, para guru pun turut berbelasungkawa. Aku yakin, tangisan mereka itu hanya akan bertahan selama 1-2 hari saja, karena begitu manusia mati, mereka akan berdiam di suatu tempat dan terlupakan oleh mereka yang masih bisa berpindah-pindah tempat. Ditinggal dan dilupakan oleh waktu yang terus berjalan. Aku pun sebenarnya turut sedih atas kematian Guntur, tapi di satu sisi aku merasa lega, karena seandainya ramalan Guntur benar, ia tidak akan pernah menjadi bagian dari titik-titik hitam itu.

Dalam perjalanan pulang, sambil mendengarkan There There karya Radiohead, aku mendadak berpikir, mungkin Tuhan sadar kalau Ia salah. Ia salah karena sengaja menciptakan Guntur untuk menjadi bagian dari mereka, sehingga Tuhan dengan berbaik hati mencabut nyawa Guntur. Atau barangkali, Tuhan memang sengaja membuat Guntur mengalami kematian tragis seperti itu, membuat teori rel kereta api Guntur menjadi benar. Atau mungkin, sebenarnya Guntur sudah tahu kalau sebentar lagi, hidupnya akan segera berakhir, makanya wajahnya kemarin benar-benar kosong. Wajah seorang manusia yang sedang bersiap-siap untuk menghadapi ajal yang akan segera menghampirinya.

“We are accident, waiting, waiting, to happen.” ucap Thom Yorke yang seakan-akan sedang menjawab pertanyaanku.

Tuhan memang bekerja dengan cara yang misterius, pikirku hari itu.

 5 Mei 2014